Politik dan Ideologi Pendidikan Demokrasi Pancasila


Perkuliahan Filsafat Pendidikan pada pertemuan kesepuluh tanggal 13 November 2018 Prof. Dr. Marsigit MA membahas tulisannya Beliau yang pernah dipresentasikan di depan sidang terbuka senat UNY pada Senin/ 23 Juni 2014 yang berjudul “Narasi Besar Ideologi dan Politik Pendidikan Dunia”. Beliau mengawali pembahasan objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam filsafat sebuah eksistensi terikat ruang dan waktu. Seperti yang pernah ditanyakan pada pertemuan keempat: Apakah yang dimaksud ‘ada’? Mengapa yang ‘tidak ada’ itu ‘ada’? Dalam pemikiran pada umumnya, jika suatu objek dianggap ada maka objek tersebut eksis secara nyata. Artinya objek tersebut dapat dilihat, disentuh maupun dirasakan keberadaannya. Sedangkan yang tidak ada berarti nihil, atau tidak nampak, tidak dapat disentuh dan dirasakan keberadaannya.
Dalam filsafat, keberadaan suatu objek dikaitkan dengan ruang dan waktu. ‘Tidak ada’ tidak berarti tidak eksis, sedangkan yang ‘ada’ tidak berarti objek tersebut selalu ada. ‘Tidak ada’ bisa juga disebut ‘ada’. Jika kita memandang keberadaan suatu objek dalam dimensi ruang dan waktu, ‘ada’ dalam suatu ruang dan waktu dapat juga dikatakan ‘tidak ada’ dalam ruang dan waktu yang lain. Jika sebuah objek berada di tempat tertentu, berarti objek tersebut tidak ada di tempat lainnya, begitu pula jika objek itu ada di suatu waktu tertentu, bisa juga objek itu tidak ada di waktu lain.
Unsur ‘ada’ pada objek filsafat adalah segala sesuatu yang kita ketahui, yang kita telah lihat atau amati, serta yang kita pikirkan yang kemudian dapat kita jelaskan dan refleksikan secara jelas. Sedangkan unsur yang kedua dari objek filsafat yaitu yang ‘mungkin ada’, maksud dari unsur objek filsafat yang kedua ini adalah segala sesuatu yang belum terjadi, masih bersifat abstrak, dan belum pasti seperti kejadian besok pagi di masa yang akan datang dan kejadian di masa lampau. Kejadian di masa lampau penafsiran bagi setiap individu berbeda. Kejadian di masa lampau bisa ‘ada’ pada diri seseorang namun pada diri yang lain ‘belum tentu ada’. Namun yang ‘belum tentu ada’ tersebut bisa menjadi berubah menjadi ‘ada’ jika informasi yang dapat membuatnya ‘ada’ telah masuk dalam pikiran kita.
Terkait dengan dunia pendidikan hakekat filsafat mengadakan yang ‘mungkin ada’ itu terkait dengan metode pembelajaran yang diterapkan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Misalnya metode pembelajaran langsung, metode pembelajaran diskusi dan sebagainya. Metode pembelajaran tersebut diterapkan agar dapat membantu siswa memahami pelajaran di sekolah, terutama mata pelajaran matematika. Dalam proses pembelajaranpun diharapkan seorang guru mampu mendorong siswa lebih kreatif secara keseluruhan. Selain dituntut pembelajaran yang kreatif seorang guru juga harus memberikan pembelajaran yang efektif. Namun yang menjadi kendala adalah bagaimana cara seorang guru dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran.
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia termasuk juga dasar pendidikan di Indonesia. Implementasi nilai sila Ketuhanan dalam pendidikan, misalnya guru mengajarkan mengenai pendidikan agama. Dari pembelajaran keagamaan ini kita dapat lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Seperti halnya dengan melakukan praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari di mana seorang guru mencontohkan bagaimana cara beribadah kepada Tuhan. Namun bukan hanya sekedar contoh tetapi guru mengajak secara langsung kegiatan praktiknya. Begitu juga dengan tersedianya fasilitas tempat ibadah agar dapat menunjang terlaksananya pembelajaran tersebut.
Implementasi nilai kemanusiaan dalam pendidikan, misalnya dengan tidak memberikan kekerasaan pada masa orientasi sekolah. Siswa tidak hanya diajarkan mengenai materi pengetahuan saja namun juga diajarkan bagaimana saling tolong menolong seperti contoh membantu teman yang membutuhkan, menjenguk teman yang sakit, saling, dan lain sebagainya. Begitu juga dalam suatu pembelajaran seorang guru harus memperhatikan nilai kemanusiaan, yaitu dengan tidak menggunakan kekerasan dan menghargai siswanya.
Implementasi nilai persatuan yakni sekolah tidak mengajarkan persaingan pada setiap siswanya, namun sekolah mengajarkan untuk bekerja sama dan mengajarkan untuk selalu tetap kompak walaupun ada perbedaan diantara siswa. Perbedaan di antara siswa akan mengantarkan dalam kerukunan jika siswa saling menghargai dan saling bersatu. Implementasi sila kerakyatan dalam pendidikan adalah dimana adanya usulan-usulan pendidikan dari sekolah-sekolah kepada pemerintah untuk memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Melalui usulan dari sekolah-sekolah tersebut jika disetujui oleh pemerintah maka diharapkan sekolah mampu menjalankan pembelajaran guna mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai apa yang telah dicita-citakan bangsa Indonesia. Sedangkan implementasi kerakyatan bagi siswa dalam pendidikan adalah dimana anak diajarkan untuk bertanya kepada gurunya apa yang tidak dipahami. Selain itu anak juga diperbolehkan untuk menanggapi apa yang diajarkan oleh guru.
Implementasi keadilan dalam pendidikan di sekolah adalah sekolah tidak membedakan siswa dari kalangan yang tidak mampu atau mampu. Sekolah menerima siswa baru sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya, bukan karena uang sumbangan yang lebih besar dari yang lainnya. Sedangkan implementasi sila keadilan dalam pendidikan bagi siswanya sendiri adalah, dimana seorang siswa yang tidak memilih-milih teman, dia mau berteman dengan siapa saja dan berlaku adil kepada semua temannya.
Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang didasarkan pada asas kekeluargaan dan kegotongroyongan yang ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius, kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan berkesinambungan. Demokrasi di sekolah dapat diartikan sebagai pelaksanaan seluruh kegiatan di sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. Mekanisme berdemokrasi dalam politik tidak sepenuhnya sesuai dengan mekanisme dalam kepemimpinan lembaga pendidikan, namun secara substantif, sekolah demokratis adalah membawa semangat demokrasi tersebut dalam perencanaan, pengelolaan dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan nilai-nilai Demokrasi Pancasila.
Pada akhir penjelasannya, Beliau menegaskan bahwa implikasi pengembangan nilai-nilai demokrasi dalam proses pembelajaran di kelas tentu tidak lepas dari peran guru. Terpenuhinya misi pendidikan sangat tergantung pada kemampuan guru untuk menanamkan setting demokrasi pada siswa, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk belajar dalam rangka membangkitkan semangat bereksplorasi, berkreasi dan berprakarsa di kalangan siswanya. Agar kelak tidak menjadi manusia-manusia yang hanya tunduk pada komando. Dengan cara demikian, kelas akan menjadi magnet demokrasi yang mampu menggerakkan gairah siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai demokrasi dan keluhuran budi secara riil dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya Prof. Marsigit mengajak mahasiswa untuk memahami tulisan Immanuel Kant yang berjudul “The Critique of Pure Reason” pada bagian preface. Terdapat beberapa kesulitan dalam usaha mentranslasikan karya klasik Kant. Di samping itu, beberapa gaya penulisan Kant juga terkesan sangat kaku dan sulit untuk dimengerti. Meskipun gaya bahasa Kant sangat sulit untuk dipahami, namun gagasan–gagasan yang ada didalamnya sangat jelas dan cemerlang. Kant cenderung menyampaikan gagasannya secara eksak dan hati-hati. Hal-hal inilah yang umumnya menjadi kesulitan bagi pembaca pemula termasuk saya dalam memahami Critique of Pure Reason. Banyak kritik yang berkembang terhadap karya ini, namun Critique of Pure Reason bagaimanapun juga telah menjadi salah satu tonggak dalam sejarah filsafat barat.
Kant merupakan salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat barat, terutama dalam sejarah filsafat modern. Setidaknya terdapat tiga gagasan utama yang ditawarkan oleh Kant, yaitu gagasan filsafatnya tentang proses pengetahuan; filsafat moral Kantian dan moralitas Kant dalam kaitan dengan eksistensi Tuhan. Kant mulai membangun aliran filsafat yang disebut sebagai Kritisisme Kantian, yaitu perpaduan antara rasionalisme dan empirisme. Kritisisme merupakan filsafat yang diawali dengan menyelidiki kemampuan dan batas-batas nalar.
Kant dengan pemikirannya membangun pemikiran baru, yakni yang disebut dengan kritisisme yang dilawankan terhadap seluruh filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai dogmatisme. Dogmatisme menganggap pengetahuan objektif sebagai hal yang terjadi dengan sendirinya. Dogmatisme mendasarkan pandangannya kepada pengertian Allah, tanpa menghiraukan rasio telah memiliki pengertian tentang hakekatnya sendiri, luas dan batas kemampuannya. Sebagai aliran filsafat, dogmatisme percaya sepenuhnya pada kemampuan nalar dan mendasarkan pandangannya pada kaidah-kaidah a priori tanpa bertanya apakah nalar memahami hakikatnya sendiri, yakni jangkauan dan batas-batas kemampuannya. Alasannya adalah karena Kant menggabungkan kedua paham yang berseberangan, yaitu rasionalisme eropa yang teoritis, a priori, sesuai rasio, dan terinspirasi oleh Plato, serta empirisme Inggris yang berpijak kepada pengalaman, a posteriori, dan terinspirasi oleh Aristoteles.
Immanuel Kant mengkritik empirisme, ia berpendapat bahwa empirisme harus dilandasi dengan teori-teori dari rasionalisme sebelum dianggap sah melalui proses epistomologi, itu merupakan penjelasan melalui bukunya yang berjudul critique of pure reason (kritik atas rasio murni). Anggapan Kant tentang empirisme, bahwa empirisme (pengalaman) itu bersifat relatif tanpa adanya landasan teori.  Konsekuensi dari “ kritik atas rasio murni “ dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan yang tersendiri, yaitu kawasan keperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan tingkah laku manusia. Karyanya inilah yang sangat mempengaruhi pemikiran filsuf sesudahnya, yang mau tak mau menggunakan pemikiran Kant, karena pemikiran kritisisme mengandung patokan-patokan berpikir yang rasional dan empiris.

Refleksi perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 10 (13 November 2018)

Comments

Popular posts from this blog

Mengolah Jiwa Melalui Filsafat