Mengolah Jiwa Melalui Filsafat
Seperti beberapa pertemuan sebelumnya,
perkuliahan Filsafat Pendidikan pada pertemuan kesembilan tanggal 6 November
2018 diawali dengan pemberian tes jawab singkat kemudian dilanjutkan dengan
pengajuan pertanyaan dari mahasiswa. Beberapa pertanyaan berkaitan dengan
“ketersinggungan seseorang atas sikap dan tingkah orang lain”. Prof. Marsigit
menanggapi bahwa dalam hidup ini akan ada 2 keadaan yang memiliki 3 kemungkinan
sifat yaitu: beriringan, bersinggungan, dan tumpang tindih. Kemudian Beliau
mengatakan bahwa kita harus menyadari adanya perpotongan keadaan, perpotongan
tersebut bisa terjadi di hati maupun pikiran seseorang. Filsafat
sebagai ilmu yang berusaha merefleksikan seluruh kenyataan hidup manusia secara
mendalam, bisa berperan dalam menjawab pernyataan yang terkait dengan kehidupan.
Komunikasi merupakan jendela penghubung ketika kita
sedang berinteraksi dan ingin lebih mengenal orang lain. Dari sekedar basa-basi
berbincang ringan, sharing permasalahan, atau yang menyangkut masalah
serius. Perasaan yang dimiliki seseorang juga terkadang menyediakan tempat
singgah bagi suara yang didengar. Bisa jadi suara itu diolah dengan baik di
dalam perasaan, dan bisa jadi tempat yang disediakan untuk menampung suara
terlalu sempit sehingga akan membuat perasaan seseorang menjadi gusar. Dengan
kata lain hanya ada dua pilihan yang harus terima ketika berkomunikasi dengan
orang lain, yaitu memahami apa yang dikatakan atau malah membuat seseorang
tersinggung.
Apa yang dikatakan dengan sadar atau tanpa sadar bisa
menyakiti perasaan orang lain. Umumnya, orang akan sangat merasa sakit hati
ketika ucapan-ucapan yang menyinggung itu sudah terlalu sering
dilontarkan. Prof. Marsigit mencontohkan ketika saatnya tidak bergurau, tetapi
dipaksakan untuk bergurau maka akan ada yang tersinggung. Namun ada juga tipe
orang yang sangat mudah tersinggung, sekalipun ucapannya hanyalah sekedar
guyonan ringan atau salah dalam satu pemilihan kata. Tipe seperti ini akan
lebih mudah tersulut emosinya, dan termasuk tipe orang yang sangat mudah
terprovokasi.
Pertanyaan dari salah satu mahasiswa
“Apa yang membuat seseorang mudah tersinggung?”. Prof. Marsigit menjawab “Ada
banyak sebab seseorang mudah tersinggung”. Pertama, seseorang sering mendengar
ucapan yang kurang mengenakkan hatinya. Terkadang hal ini justru menjadi
penyebab utama mengapa seseorang menjadi seseorang yang sangat mudah
tersinggung saat terjadi dialog. Seseorang sering berada di lingkungan dimana
banyak orang yang suka menggunakan kalimat-kalimat sindiran setiap kali berkomunikasi
dengan orang lain, yang seringkali itu juga sering menyakiti hatinya. Hal
seperti itulah yang membuat perasaannya menjadi sangat sensitif sekalipun
ketika ucapan seseorang tidak ada maksud sekalipun untuk menyinggung
perasaannya. Setidaknya itu juga menjadi sebuah pelampiasan ketika otak dan
hatinya sudah mencapai titik jenuh untuk berusaha selalu bersabar.
Kedua, seseorang mempunyai pemikiran
yang kaku. Pemikiran yang kaku juga membuat seseorang menjadi lebih mudah
tersinggung saat ia berkomunikasi dengan orang lain. Dalam hal ini ia bukanlah
tipe orang yang bisa menerima suatu perlakuan dengan lapang dada, karena
baginya ketika seseorang berlaku buruk terhadapnya itu artinya ia juga harus
membalas perlakuan buruk yang sama. Dan ketika seorang melontarkan sindiran
yang sebenarnya hanya bersifat guyonanpun emosinya akan sangat cepat tersulut
dan langsung melontarkan sindiran yang malah bernada menyinggung.
Ketiga, seseorang mempunyai tingkat
stress yang berat. Orang yang sangat mudah tersinggung juga mempunyai korelasi
dengan tingkat stres. Bisa dari stres yang didapatkan dalam lingkungannya atau
masalah yang bersifat sangat pribadi. Keempat, tipe orang yang memang memiliki
sifat egois yang tinggi. Sifat seseorang yang mudah tersinggung biasanya banyak
dimiliki mereka yang memang berwatak keras kepala dan egois. Mereka mempunyai
aturan tak tertulis, bahwa ia tidak akan pernah peduli dengan perasaan orang
lain, tapi orang lain harus mengerti perasaan atau apa yang ia mau. Ketika apa
yang dibicarakan tidak sesuai dengan keinginan hatinya, biasanya orang tersebut
akan langsung menunjukkan etika yang kurang bersahabat dengan nada bicara yang
tinggi atau pemilihan kata yang menjurus kasar.
Kemudian ada pertanyaan “Bagaimana agar
seseorang tidak mudah tersinggung?”. Prof. Marsigit memberikan penjelasan bahwa
“kita perlu mengolah jiwa, filsafat ini sebagai ilmu berpikir dan reflektif
tentang seluruh kenyataan hidup manusia yang dapat dijadikan awal dari
kejernihan, dan kejernihan adalah awal dari kebahagiaan (agar orang tidak mudah
tersinggung).” Mengolah jiwa dapat diawali dengan melihat ke dalam diri kita
sebagai manusia. Di dalam diri kita ada jati diri yang dibentuk oleh lingkungan
sosial kita. Di dalamnya terdapat kebiasaan-kebiasaan kita, baik dalam konteks
kebiasaan yang tampak dalam perilaku sehari-hari, maupun kebiasaan-kebiasaan
yang terlihat di dalam cara berpikir kita, ketika menanggapi sesuatu.
Jati diri merupakan sumber dari semua
perilaku dan kebiasaan kita. Jati diri juga merupakan sumber dari cara berpikir
kita, ketika kita menanggapi setiap peristiwa yang terjadi, baik itu peristiwa
yang buruk, maupun yang menyenangkan. Keberadaan jati diri amat rapuh, dan bisa
diubah sesuai dengan keinginan dan kepentingan kita, selama kita menyadarinya. Untuk
menjadi bahagia, kita perlu untuk menyadari keberadaan jati diri sosial ini,
dan mengambil jarak darinya. Ketika kita sedih ataupun senang, kita harus
sadar, bahwa yang sesungguhnya merasa sedih dan senang adalah bentuk sosial
dalam diri kita, yakni jati diri sosial itu sendiri.
Mekanisme pengolahan jiwa akan membawa
orang pada kesadaran sejati, dan tidak lagi dibuat susah oleh gejolak kehidupan
yang terus berubah. Dengan cara ini, orang bisa jadi pribadi yang lebih
reflektif, karena ia terus sadar apa yang terjadi di dalam jiwanya. Tindak
melayani yang sejati terletak pada kebebasan diri, bukan emosi. Ketika orang
sudah menyentuh jati diri sejatinya, dan menjaga jarak dari jati diri
sosialnya, ia akan bisa melayani dengan bebas dan efektif.
Ketika orang tersinggung dan disertai
marah, berarti orang tersebut tidak mampu mengolah jiwanya. Pendapat para ahli
psikologi menjelaskan bahwa marah termasuk emosi dasar. Marah juga berkaitan
erat dengan agresi dan kekerasan. Oleh karena itu, bila marah sudah mengarah ke
agresi maka akan bersifat destruktif. Selanjutnya marah yang tak terkendali
akan merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Ahli filsafat
Aristoteles mengatakan bahwa “siapapun bisa marah, marah itu mudah. Tetapi,
marah pada orang yang tepat dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat,
demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik, tidaklah mudah”.
Refleksi
perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 9 (6 November 2018)
Comments
Post a Comment