Mencoba Memahami Perjalanan Filsuf


Ketika belajar filsafat, kita akan berjumpa dengan pemikiran para filsuf besar sepanjang sejarah manusia. Sebut saja nama-nama pemikir besar itu, seperti Plato, Aristoteles, Immanuel Kant, Thomas Hobbes, Roger Bacon, dan lain-lain. Pemikiran mereka telah membentuk dunia, sebagaimana kita pahami sekarang ini. Hal inilah yang dibahas oleh Prof. Dr. Marsigit, MA pada pertemuan kedelapan matakuliah Filsafat Pendidikan pada tanggal 30 Oktober 2018. Beliau mengawali dengan meminta mahasiswa untuk membuka Timeline of Western philosophers” pada https://en.wikipedia.org/wiki/Timeline_of_Western_philosophers
Prof. Marsigit memetakan tokoh-tokoh berdasarkan pemikiran-pemikiran kritis dari para filsuf. Beliau mengawali dari tokoh Phytagoras yang idealis. Menurut Beliau,  Ide–ide matematika Phytagoras dipengaruhi oleh Thales dan Anaximenes. Pandangan Phytagoras juga berkaitan dekat dengan pandangan Anaximandros yaitu To Aperion (sesuatu yang tak terbatas). Phytagoras memiliki pemikiran yang serba matematis yang kemudian menguasai semua pengetahuan manusia pada zaman modern.
Dalam penjelasannya, Prof. Marsigit memisahkan tokoh filsuf yang idealis dan realis. Idealisme dan realisme adalah dua faham filsafat yang saling bertentangan. Idealisme telah dianut oleh tokoh-tokoh pemikir, baik dari Barat atau Timur selama lebih dari dua ribu tahun. Selama pertengahan kedua dari abad ke-19, idealisme merupakan filsafat Barat yang dominan. Di lain pihak, realisme, dengan asumsinya bahwa itu berdiri sendiri di luar pikiran manusia, telah diterima orang sepanjang sejarah.  
Tokoh aliran idealisme adalah Plato, murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea.
Menurut Prof. Marsigit, filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, imanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.
Setelah Saya merenungkan pemaparan Prof. Marsigit mengenai gambaran tentang pemikiran-pemikiran para filsuf, maka kekaguman Saya terhadap filsuf bertambah. Ternyata seorang filsuf terlibat secara aktif dalam pemikiran kritis tentang pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak bisa terjawab dengan jelas. Kehidupan seorang filsuf tidaklah mudah. Dari gambaran itu, Saya mulai tertarik untuk mempelajari hubungan yang rumit dan mau memikirkan secara mendalam topik-topik penting walaupun seringkali cukup sulit dipahami. Hal tersebut pernah Saya tanyakan ke Prof. Marsigit pada pertemuan kedua, “Mengapa Saya merasa kesulitan untuk bisa memahami filsafat?”. Kemudian Beliau menjawab: “Jika Anda merasa kesulitan memahami filsafat, berarti Anda mempunyai potensi untuk belajar filsafat dan bisa jadi studi mengenai filsafat menjadi jalan hidup Anda”.
Menurut Beliau, filsafat berkembang karena ada seseorang yang dengan keras dan kritis mempertanyakan hal-hal yang ada dalam kehidupan dan kejadian di dunia ini secara keseluruhan. Seorang filsuf adalah seseorang yang banyak melakukan refleksi dan observasi: dengan memanfaatkan setiap pengalaman dalam mencari suatu pengertian, bahkan jika dibutuhkan kejujuran yang sangat berani untuk melakukan hal ini. Selain itu, ia juga harus mampu melepaskan pandangan-pandangan yang sebelumnya sudah diterima oleh seseorang di masa lalu dan menghadapkan setiap keyakinan seseorang pada penelitan kritis yang dilakukan secara mendalam.
Para filsuf tidak hanya memberikan pendapat dan mengobrol tanpa arti. Justru sebaliknya, para filsuf mengembangkan argumen, berdasarkan sebuah dalil yang bisa dan akan ditantang oleh para filsuf yang lain. Tujuan dari pemikiran filosofis bukanlah untuk menjadi yang benar, melainkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan mencari pengertian.
Pemikiran filosofis tentang kehidupan usianya sudah ratusan tahun. Jika gagasan-gagasan dari para filsuf kita pelajari, maka akan memunculkan gagasan-gagasan baru, berbagai pertanyaan, dan masalah yang perlu dipikirkan lebih lanjut. Saya yakin, semakin banyak tulisan tentang filsafat yang Saya baca, maka Saya akan menjadi filsuf yang makin baik. Beberapa gagasan filosofis yang tetap bertahan dan berpengaruh kuat dalam filsafat Barat berasal dari para filsuf yang terkenal seperti Plato, Aristoteles, Hume, Descartes, dan Kant, sedangkan dalam filsafat Timur, gagasan Lao-Tse, Konfusius, dan Buddha bisa menjadi referensi awal untuk memahami filsafat.
Dalam mempelajari pemikiran para filsuf, tentunya ada pandangan filsuf yang berbeda dengan pemikiran saya. Saya harus memahami bahwa pendapat para filsuf itu terbatas ruang dan waktu. Beberapa kali Prof. Marsigit mengatakan bahwa “Sebenar-benarnya filsuf adalah diriku sendiri”, maka Saya sependapat dengan filsuf yang sesuai dengan kehidupan saya. Hal ini dikarenakan tidak semua hasil pemikiran filsuf itu harus kita percayai, kita harus selektif dalam menerima pandangan orang lain, karena kebenaran orang lain bisa saja bukan menjadi kebenaran untuk kita. Sebagai makhluk sosial kita tidak boleh memaksakan kehendak diri dalam bermasyarakat, dalam artian memaksakan pemikiran kita untuk orang lain. Jadi kita cukup menyampaikan kebenaran dan kebenaran yang ada dan yang menurut kita benar setelah kita teliti kebenarannya tanpa harus memaksakan kepada orang lain untuk mengikuti. Selain itu, kita perlu kita memberi contoh nyata dari pemikiran kita. Kebaikan/ kebenaran yang dilakukan dengan perbuatan biasanya lebih efektif dan mudah diterima oleh masyarakat.
Saya mulai merasakan pentingnya filsafat dalam kehidupan, yaitu mampu menjawab segala pertanyaan dengan metode berpikir yang logis dan tidak terikat norma dan dogma. Melalui belajar filsafat, seseorang bisa memiliki pemikiran yang kritis. Filsafat akan membentuk pemikiran diplomatis, yang bisa menjadikan seseorang peka terhadap lingkungan sekitar, dan juga bertindak anti-apatis. Disamping itu, filsafat juga bisa membentuk menjadi seorang pemikir yang logis dan rasional. Dengan metode berpikir seperti ini, seseorang bisa mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan dengan baik.
Belajar filsafat dapat melatih seseorang untuk berpikir independen dan berpikir secara fleksibel. Pemikiran independen adalah hasil berpikir secara pragmatis dan terbuka. Kita juga berusaha mengambil jalan tengah agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Memang, berpikir secara konvensional akan membuat hidup menjadi sistematis, tapi berpikir secara independen membuat seseorang bisa melangkah lebih jauh. Selain itu, berpikir independen berarti kita tidak 'hidup' berdasar pemikiran orang lain. Filsafat itu sifatnya dinamis, tidak terbelenggu dalam satu aturan-aturan dan kaidah. Ini akan membuat kita memiliki fleksibilitas berpikir, memiliki kemauan untuk mencoba hal baru. Tidak harus 'terikat' dengan ide-ide lama, karena kita bisa menggantinya dengan ide-ide baru yang lebih efektif.
Mempelajari pemikiran filsuf akan memiliki wawasan yang luas dan membuat lebih terampil di berbagai bidang. Prof. Marsigit mengatakan bahwa peradaban dunia dibangun berdasar atas berbagai macam pemikiran. Di samping itu, filsafat mengajak untuk memahami dan mempertanyakan ide-ide tentang kehidupan, tentang nilai-nilai hidup, dan tentang pengalaman kita sebagai manusia. Kita akan memahami berbagai macam teori-teori dalam kehidupan, sehingga menjadi sadar, betapa berharganya kehidupan. Berbagai konsep yang akrab dengan hidup kita, seperti tentang kebenaran, akal budi, dan keberadaan kita sebagai manusia, juga dibahas dengan kritis, rasional, serta mendalam.
Filsafat mengajarkan kita untuk bisa mempertahankan pendapat, serta bisa mengembangkannya secara sehat, menggunakan nalar yang tepat, dan tidak menggunakan otot. Selain itu, menjadikan seseorang yang skeptis artinya tidak langsung percaya pada suatu peristiwa atau berita, tapi harus bisa menemukan bukti yang kredibel serta valid, agar tidak termakan berita hoax. Memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi berdasar sebab-akibat.
Dengan belajar berpikir secara logis, seimbang, kritis, sistematis, dan komunikatif, kita akan menjadi seorang pemimpin ideal bagi diri sendiri maupun orang lain yang sangat dibutuhkan oleh berbagai bidang di Indonesia sekarang ini. Gagasan pemikiran dapat muncul sebelum atau sesudah gagasan lain. Pikiran manusia dapat berubah-ubah dari satu hal ke hal lain dan kembali lagi ke hal yang sama lalu ke hal lain lagi. Dengan sifat pikiran yang demikian, maka manusia menjadi lebih bebas untuk mengatur pemikiran-pemikirannya sesuai dengan apa yang diinginkan apakah itu untuk tujuan baik ataupun untuk tujuan buruk.
Refleksi perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 8 (30 Oktober 2018)

Comments

Popular posts from this blog

Mengolah Jiwa Melalui Filsafat