Skeptisisme dalam Menguak Kebenaran


Terkadang rasa percaya diri hilang begitu saja ditelan keraguan, karena rasa percaya diri bukanlah hal yang datang sekali dan tinggal selamanya. Ada saatnya kita percaya bahwa kita bisa, dan ada kalanya kita merasa ragu akan diri kita. Setiap orang pasti pernah merasakan keraguan dalam dirinya. Keraguan punya dampak positif dan negatif. Positifnya, hal ini bisa mendorong kita untuk bekerja lebih keras, terbuka terhadap ide-ide, sehingga kita jadi lebih awas terhadap perubahan yang akan kita terima. Selain itu, keraguan sering membuat kita jauh lebih menghargai dukungan dari orang lain. Negatifnya, di sisi lain sering membuat orang yang mengalaminya mengalami rasa panik, merasa tidak berguna, atau takut. Kalau tidak disikapi dengan baik, bisa-bisa kita terperangkap pada bagian negatif dari keraguan.
Ketidakpercayaan atau keraguan seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya disebut skeptisisme. Dalam filsafat, skeptisisme merujuk lebih bermakna khusus untuk suatu atau dari beberapa sudut pandang. Termasuk sudut pandang tentang sebuah pertanyaan, metode mendapatkan pengetahuan melalui keraguan sistematis dan terus menerus pengujian, kesembarangan, relativitas, atau subyektivitas dari nilai-nilai moral, keterbatasan pengetahuan, metode intelektual kehati-hatian dan pertimbangan yang ditangguhkan.
Hal ini yang dibahas Prof. Dr. Marsigit, MA pada pertemuan kelima mata kuliah Filsafat Pendidikan tanggal 9 Oktober 2018 ketika saya bertanya 2 hal yaitu: “Jelaskan yang dimaksud Rene Descartes mengenai metode keraguan? Apa metode keraguan berlaku ketika kita belajar apa saja?”. Prof. Marsigit menjelaskan bahwa satu hal yang membuat Rene Descartes sangat terkenal adalah bagaimana dia menciptakan satu metode yang betul-betul baru di dalam berfilsafat yang kemudian dia beri nama metode keraguan. Berdasarkan metode ini, berfilsafat menurut Descartes adalah membuat pertanyaan metafisis untuk kemudian menemukan jawabannya dengan sebuah fundamen yang pasti, sebagaimana pastinya jawaban di dalam matematika.
Beliau menjelaskan keraguan sendiri adalah keadaan seimbang antara penegasan dan pengingkaran. Dalam kehidupan sehari-hari, keraguan lebih sering ditemui saat kita akan mengambil sebuah keputusan. Walaupun praktik yang dilakukan filsuf dengan kita berbeda namun pengambilan keputusan itu pada dasarnya berada pada level yang sama sebagai suatu jalan dalam menemukan kebenaran-kebenaran sebuah putusan.
Meragukan sesuatu adalah berpikir tentang sesuatu, dengan demikian bisa dikatakan bahwa kepastian akan eksistensi kita bisa dicapai dengan berpikir. Descartes kemudian mengatakan cogito ergo sum yang artinya adalah “aku berpikir maka aku ada”. Dengan metode keraguan ini, Descartes ingin mengokohkan kepastian akan kebenaran, yaitu “cogito”  atau kesadaran diri. Cogito adalah sebuah kebenaran dan kepastian yang sudah tidak tergoyahkan lagi karena dipahami sebagai hal yang sudah jelas dan terpilah-pilah.
Metode Keraguan (Skeptisisme) berawal dari pemikiran bahwa untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, ia meragukan (skeptis) terlebih dulu terhadap segala seuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia meragukan semua yang dapat diindera, obyek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metode skeptis tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri, keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya tidak jelas. Prof. Marsigit mengatakan “Tidak bisa membedakan ‘nyata’ atau ‘mimpi’.” Di dalam mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, maka dalam keragu-raguan itu jelas ia ada sedang berpikir. Sebab seseorang yang sedang berpkir itu tentu ada dan jelas terang benderang.
Berdasarkan penjelasan Prof. Marsigit, dapat disimpulkan bahwa metode keraguan Descartes bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah untuk mempertahankan keraguan, sebaliknya metode ini bergerak dari keraguan menuju kepastian. Keraguan Descartes hanya digunakan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Sumber kebenaran ialah rasio. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa seseorang kepada kebenaran, yang benar hanyalah tindakan akal yang terang benderang.
Kesadaran bahwa “tidak tahu apa-apa” dan “keraguan atas kemampuan diri” membuat pikiran senantiasa terbuka, tidak kaku, dan terbuka pada hal-hal baru. Orang yang benar-benar cerdas tidak pernah merasa orang lain bodoh atau lebih rendah dari dirinya. Semua orang adalah guru. Semua orang punya kelebihan dan sisi bijaknya sendiri-sendiri yang selalu bisa diambil pelajaran. Inilah yang pada akhirnya membuat pengetahuan dan pemahaman senantiasa berkembang. Karena selalu jauh dari rasa ‘pintar sendiri’, yang sering menjebak orang sehingga malas mencari dan belajar lagi.
Ketika seseorang sering meragukan diri sendiri, maka bisa jadi justru termasuk orang yang punya kecerdasan di atas rata-rata. Sebab orang yang genius, memang hobi meragukan segala hal, termasuk diri sendiri. Orang tersebut mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Namun semakin banyak yang diketahui, maka semakin merasa tidak tahu apa-apa. Semakin banyak yang dipahami, maka semakin tidak mengerti apa-apa tentang dunia ini. Beberapa tahapan yang bisa dilakukan dalam menerapkan metode keraguan yaitu mulai meragukan segala sesuatu yang selama ini diterima sebagai suatu kebenaran, kemudian mengklasifikasikan persoalan dari hal yang sederhana hingga hal yang rumit. Setelah persoalan/ masalah terklasifikasi kemudian melakukan pemecahan masalah dari hal yang sederhana hingga hal yang paling rumit, kemudian memeriksa kembali secara menyeluruh barangkali masih ada hal-hal yang masih tersisa atau terabaikan.

Refleksi perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 5 (9 Oktober 2018)

Comments

Popular posts from this blog

Mengolah Jiwa Melalui Filsafat