Pikirkanlah Apa yang Kau Kerjakan...


Perkuliahan Filsafat Pendidikan pada pertemuan kedua tanggal 18 September 2018 Prof. Dr. Marsigit, MA banyak membahas tentang filsafat kehidupan. Setelah Prof. Marsigit menceritakan riwayat pendidikan hingga disetujui gelar profesor ilmu pendidikan matematika pada usia 55th, Prof Marsigit menjelaskan makna hidup. Menurut Beliau, hidup itu kebaikan, hidup itu dirimu, hidup adalah kesadaran, hidup itu doa, hidup adalah modal, hidup itu indah, hidup itu penuh tantangan, hidup itu perjuangan, hidup itu pengalaman, hidup itu masalah, hidup itu berkreasi, hidup adalah berpikir dan masih banyak lagi makna hidup, karena itu hidup adalah spesial. Lebih dalam lagi mengenai makna hidup, dimana makna hidup adalah bagaimana individu memaknai hidup. Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak untuk dijadikan tujuan hidup. Makna hidup sebagai sesuatu hal yang bersifat personal dan bisa berubah seiring perjalanan waktu maupun perubahan situasi dalam kehidupannya. Individu seolah-olah ditanya apa makna dari hidupnya pada setiap waktu dan setiap situasi dan kemudian harus mampu mempertanggung jawabkannya.
Hidup akan memiliki arti jika yang kita lihat adalah apa yang perlu dilihat, jika yang kita dengar adalah apa yang perlu kita dengar, jika yang kita bicarakan adalah apa yang perlu dibicarakan, dan jika yang ingin dicari tahu adalah apa yang perlu untuk diketahui. Hidup yang kita jalani sekarang ini hanya sementara tetapi hidup yang sekarang ini tidaklah mudah untuk dijalani. Oleh karena itu lakukanlah apa yang harus kita lakukan untuk bisa bertahan hidup dan jalanilah sesuai dengan kehendak Allah.
Dalam hidup ini terkadang kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Ada banyak sekali jalan yang dapat diambil dalam kehidupan, tetapi tidak semuanya realistis atau mudah dan tidak semuanya menjanjikan. Oleh karena itu, seperti pesan dari Prof. Marsigit, “Jalankan pikiran hidup” dengan cara “Pikirkanlah apa yang Kau kerjakan”. Pikirkan hal-hal yang dapat dilakukan dan hal-hal yang tidak dapat dilakukan. Kita harus mampu mengetahui keterampilan kita, dan apa yang ingin dipelajari.
Terkadang kita sering merasa terganggu dan terancam dengan apa yang orang pikirkan tentang kita. Ketakutan akan dimusuhi, ditinggalkan, dan dianggap remeh seringkali membuat kita terlalu dalam memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Bahkan bisa jadi kita terjebak pada kesimpulan bahwa apa yang orang lain pikirkan lebih baik dari pengalaman pribadi. Dan seolah-olah pikiran itulah yang ideal sebagai jalan untuk menjadi diri sendiri.  Sikap yang demikian akan sangat berisiko bagi kepribadian dan jati diri. Kita akan dengan sangat mudah menjadi orang lain dan mengabaikan kata suara hati. Hidup hanya akan menjadi perjalanan pemenuhan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Sebaiknya kita mempertimbangkan matang-matang untuk mulai mengurangi memikirkan apa yang orang lain pikirkan.
Kita perlu merenung dan menanyakan pada diri kita “Apa yang akan saya lakukan dalam hidup?” Pertanyaan tersebut terkadang sangat sulit dijawab, karena kita masih sering kebingungan untuk melihat dunia yang sangat luas dan tidak terbatas dengan berbagai peluang yang mungkin terjadi, dan kita hanya bisa memilih salah satu dari sekian banyak peluang yang ada. Kebingungan ini muncul karena “ketidaktahuanku akan letak kebingunganku” yang mungkin tidak paham akan makna hidup dan kehidupan.  Setelah Saya merenung untuk introspeksi diri, ternyata banyak sekali kesalahanku dalam menjalani hidup ini. Oleh karena itu, kita perlu mencoba untuk melihat apa yang terjadi sekarang ini, daripada membayangkan hal yang belum pasti akan terjadi di masa depan. Berhentilah berangan-angan, dan mulailah mengambil tindakan. Cobalah sesuatu yang menarik, dan terus dilakukan hingga ingin melakukan hal menarik lainnya. Kemungkinan terburuknya, kita akan menyadari hal yang tidak ingin dilakukan; kemungkinan terbaiknya, satu kesempatan saja dapat membawa kita ke tingkat selanjutnya, dan kita pun akan menemukan tujuan hidup yang sebenarnya.

Refleksi perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 2 (18 September 2018)


Comments

Popular posts from this blog

Mengolah Jiwa Melalui Filsafat