Ketika Pikiran dan Hati Bicara



Pertemuan ketiga dan keempat mata kuliah Filsafat Pendidikan pada tanggal 25 September 2018 dan 2 Oktober 2018 Prof. Dr. Marsigit, MA banyak membahas tentang pikiran dan hati. Beliau menganalogikan bicara mengenai pikiran dan hati dengan bicara dunia dan akirat. Pikiran merupakan gagasan dan berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Bicara tentang hati untuk tingkat yang rendah dikaitkan dengan sedih, susah, dan bahagia, bicara tentang hati untuk tingkat yang agak tinggi dikaitkan dengan rindu dan cinta, sedangkan bicara tentang hati dalam berfilsafat dikaitkan dengan  dengan spiritual, konsep Tuhan, dan akhirat.
Sebagian orang mungkin ada yang masih berpikiran bahwa otak adalah satu-satunya untuk berpikir, dan mungkin masih jarang yang mengatakan hati digunakan untuk berpikir. Otak dan hati memang memiliki cara berpikir yang berbeda. Berlogika adalah cara berpikir pada wilayah otak, sedangkan cara berpikir dengan hati dilakukan dengan perenungan dan penghayatan.
Hati memiliki kapasitas serta kekuatan yang lebih besar serta lebih luas dan memiliki kedalaman yang melebihi dari otak. Otak hanya menjadi tempat pengolahan serta penyimpanan hal hal yang bersifat teknis berupa data fisik dan data empirik, sedangkan hati menjadi tempat menyimpan hal-hal yang lebih bersifat essensial dan mendalam.
Di dalam agama mungkin lebih banyak mengutamakan menggunakan wilayah hati.  Sebab kebenaran yang harus manusia dalami berbentuk kebenaran yang sifatnya hakiki dan essensial, sehingga manusia memerlukan peralatan berpikir dengan kapasitas lebih luas dan lebih mendalam daripada sekedar otak. Seperti dalam Al-Quran “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isro’: 36). Makna surat tersebut adalah hati yang bisa menyaring semua obyek ilmu pengetahuan yang akan masuk ke dalam otak. Ke dalam hati akan bermuara perjalanan pengalaman hidup termasuk kompleksitas problematika yang manusia temukan dalam kehidupannya. dengan kata lain hati adalah tempat menyimpan dari segala sesuatu yang manusia temukan dalam kehidupannya. Sedangkan otak itu ibarat mesin untuk memproses itu semua.
Pikiran (otak) adalah tempat berlogika sedang hati tempat untuk mendalami dan merenungi hakikat dan makna terdalam dari segala sesuatu. Hati bersifat personal, memiliki kehendak,sedang otak itu (disadari atau tidak) adalah pelaksana dari apa yang ada dalam hati. Walau dalam kenyataannya bagaimana hati dan otak bekerja tentu saja secara otomatis hal itu berjalan secara  saling sinkron, tetapi ada manusia yang karakter berpikir hatinya lebih dominan dan ada yang karakter berpikir otaknya yang lebih dominan.
Beberapa kali Prof. Marsigit menegaskan bahwa filsafat itu merupakan olah pikir, dan berpikir adalah bagian dari kegiatan kita sehari-hari. Tetapi terkadang kita malas berpikir... Malas berpikir bisa jadi dikarenakan ketidakpercayaan terhadap diri sendiri. Orang-orang seperti itu lebih memilih untuk mencari jawaban dari orang lain, terbiasa meminta saran dan pendapat orang lain sehingga menyebabkan tidak percaya terhadap hasil pemikiran sendiri yang kemudian membuat malas berpikir (mencari jawaban sendiri). Terkadang saat berpikir kita mendapatkan jawaban yang kontradiktif dengan kenyataan, yaitu antara yang ada dan mungkin ada. Setiap satu pertanyaan/ permasalahan dapat menjadi pertanyaan/ permasalahan lainnya (tidak menemukan jawaban yang konkrit) kecuali kepada Allah SWT.
Dalam berpikir ada berpikir kritis dan berpikir realistis, manakah yang lebih penting? Kedua pola pikir tersebut sama pentingnya, tergantung ruang dan waktu. Berpikir kritis dapat kita gunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan atau kabar berita, sedangkan berpikir realistis dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua hal dapat kita kritisi,dan tidak semua hal dapat kita terima begitu saja. Misalnya kita harus kritis terhadap perkembangan perubahan zaman, namun kita tidak boleh mengkritisi suatu ajaran keagamaan, karena nilai-nilai yang terkandung dalam Agama itu bersifat mutlak, artinya kita harus meyakininya tanpa mencari kebenaran dari suatu kebenaran agama.
Setelah 4 pekan menyimak penjelasan Prof. Marsigit dan mempelajari filsafat melalui blog nya Beliau http://powermathematics.blogspot.com, saya merasa lebih berpikir kritis pada setiap keadaan di sekeliling. Tidak menerima kabar berita atau ilmu pengetahuan apa adanya, tetapi lebih mendalami terlebih dahulu dan menjadikan saya lebih memaknai kehidupan ini. Saya merasa lebih mendalami lagi segala hal manusiawi yang saya hadapi, selain itu membuka wawasan saya tentang beberapa pandangan-pandangan orang lain dalam menghadapi suatu kenyataan.
Menyeimbangkan hati, pikiran, dan tindakan bukan merupakan hal yang mudah, apalagi kita sebagai manusia memiliki hawa nafsu yang terkadang bertindak diluar apa yang kita sadari. Mungkin semuanya harus dilakukan mulai dari hati, karena hati yang bersih akan menjauhkan kita dari pikiran-pikiran yang kotor, dan tidak melakukan apa yang tidak di kehendaki oleh hati dan pikiran. Namun, tidak semua yang ada di dalam hati (perasaan) dapat kita pikirkan, tidak semua hal yang ada dalam pikiran dapat kita tulis, dan tidak semua yang kita tulis dapat kita kerjakan. Maka untuk mendapatkan kesimbangan dari olah hati, pikiran, dan perasaan, kita harus memaksimalkan tindakan sebanyak yang kita pikirkan dan memaksimalkan pikiran berdasarkan apa yang kita rasakan dari hati.

Refleksi perkuliahan Filsafat Pendidikan pertemuan 3 (25 September 2018) dan pertemuan 4 (2 Oktober 2018)


Comments

Popular posts from this blog

Mengolah Jiwa Melalui Filsafat